Home » News » Kenapa Jumlah Petani Muda Indonesia Masih Sedikit?

Kenapa Jumlah Petani Muda Indonesia Masih Sedikit?

Kenapa Jumlah Petani Muda Indonesia Masih Sedikit?
pexels-archie-binamira-708798
pexels-archie-binamira-708798

Kotor dan tidak bergengsi. Dua kata tersebut sering muncul di benak anak – anak muda saat ini. Dua hal itu juga yang menyebabkan jumlah petani muda di Indonesia sangat sedikit.

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, hal itu disebabkan karena sebagian besar penduduk Indonesia memiliki pekerjaan sebagai petani. Tapi jika melihat fenomena yang terjadi saat ini, dimana generasi muda memiliki minat yang rendah untuk terjun kedalam bidang pertanian, hal itu akan tergantikan.

Alasan yang sering terdengar dari generasi milenial adalah…

gk mau kotor – kotor disawah, gk mau nyangkul deh cape, jadi petani gk bisa ngehasilin uang, gk mau kulit jadi hitam, gengsi jadi petani“.

Kurang lebih itu alasan yang mereka berikan terkait menjadi petani. Rendahnya minat generasi milenial tentu akan menjadi masalah di masa yang mendatang. Jika kita melihat ke lingkungan sekitar kita, petani – petani yang saat ini masih aktif mengelola lahan mereka merupakan petani – petani yang sudah berumur.

Alasan Ekonomi

Banyak dari para generasi muda, atau mari sebut kaum milenial, lebih memilih pekerjaan di bidang lain. Anak – anak yang tinggal di desa sekalipun lebih memilih untuk menempuh perjalanan jauh ke kota untuk mencari pekerjaan. Bahkan terkadang anak – anak yang memiliki orang tua petani pun, justru berusaha mencegah mereka agar tidak menjadi petani seperti mereka. Jika mempertimbangkan dari segi ekonomi, alasan – alasan tersebut tentu bisa dimengerti.

Sebagian besar petani di Indonesia memiliki penghasilan perbulan yang berada dibawah UMR. Biasanya petani hanya menghasilkan sebesar Rp 1.000.000 juta per bulan. Dilansir dari CNN Indonesia, bahkan pendapatan petani kurang dari Rp 150.000 ribu per bulan.

Tujuan diadakannya UMR adalah agar setiap pekerja/karyawan memiliki penghasilan yang layak dan mampu memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari sehingga kesejahteraan hidupnya terjamin.

Saat ini UMR hampir di setiap daerah di Indonesia telah mencapai Rp 4.000.000 juta rupiah per bulan. Namun mari kita lihat dengan pendapatan para petani saat ini, sebagian besar masih jauh dari UMR yang ditetapkan oleh ditetapkan oleh pemerintah. Wajar saja jika, saat ini banyak orang, jumlah generasi milenial yang ingin menjadi petani sangat minim, mengingat pendapatan yang diperoleh sangat minim, jauh dibawah UMR.

Penyebab dari rendahnya pendapatan petani kita berkaitan erat dengan luas lahan yang mereka garap. Berdasarkan data Sensus Pertanian 2003, sebesar 56,45% dari jumlah petani saat itu, hanya memiliki luas lahan sebesar 0,1 – 0,5 hektar. Semakin kecil luas lahan yang dimiliki, maka semakin kecil juga pendapatan yang mereka peroleh.

Sebagai perbandingan, mari kita lihat Amerika sebagai negara pengekspor produk pertanian nomor 1 di dudunia.

Amerika merupakan negara nomor 1 dalam hal ekspor produk pertanian. Di negeri Paman Sam ini, satu orang petani, memiliki lahan seluas 200 hektar, dilansir dari Kompas. Bayangkan, lahan seluas itu dimiliki hanya oleh satu orang petani, tentu sangat jauh dibandingkan dengan Indonesia dimana petaninya kebanyakan hanya memiliki setengah hektar. Jika petani di Indonesia bisa memperoleh luas lahan hingga ratusan hektar, tentu pendapatan mereka juga akan bertambah dan banyak orang yang ingin menjadi petani termasuk generasi muda.

Tabloid Sinar Tani mengatakan bahwa pendapatan petani di Amerika mencapai 65.000 dollar per tahunnya. Jika dikonversikan ke mata uang kita saat ini, berarti sebesar 975.000.000 rupiah per tahun, yang berarti 81.250.000 per bulannya. Hal ini menunjukkan seberapa pentingnya luas lahan berkaitan dengan pendapatan yang diterima oleh petani.

Bahkan Bill Gates, sang pendiri Microsoft juga ternyata memiliki lahan pertaniannya sendiri di Amerika. Menurut NBC News, memiliki lahan seluas 269.000 acre, atau sekitar 100 hektar yang tersebar di beberapa wilayah di Amerika seperti Nebraska, Louisiana, Arizona dan beberapa wilayah lainnya.

Alasan Gengsi

Kemajuan teknologi memberikan kemudahan di berbagai bidang, terutama bidang pekerjaan. Salah satu contohnya adalah AutoCAD. Singkatnya, AutoCAD merupakan sebuah software yang digunakan oleh orang – orang yang bekerja di bidang arsitektur dan teknik sipil. Alat ini digunakan untuk membantu dalam menggambar baik dalam 2 dimensi maupun 3 dimensi. Dengan menggunakan software ini tentu pekerjaan akan menjadi lebih cepat dibandingkan jika harus menggambar secara manual menggunakan pensil dan kertas.

Selanjutnya ada SPSS. Sama seperti AutoCAD, SPSS juga merupakan sebuah software yang bisa kita gunakan untuk membantu pekerjaan kita. Bedanya adalah SPSS digunakan oleh orang – orang yang bekerja di bidang statistika untuk mengolah data – data yang mereka peroleh. SPSS membantu mengolah dan menganalisis data dengan cepat serta menampilkan data yang lebih informatif.

Kegunaan dari kedua software tersebut adalah untuk mempermudah pekerjaan yang harus dilakukan. Kembali membahas pertanian. Di benak banyak orang, pertanian merupakan kegiatan yang hanya mengandalkan fisik seperti mencangkul dan menjemur diri dibawah teriknya matahari layaknya ikan asin.

Para generasi milenial menganggap gadget mereka sebagai bagian penting dari hidup mereka, sehari tanpa gadget bisa menjadi bencana besar bagi mereka. Mereka selalu menggunakan gadget canggih mereka disetiap kegiatan mereka, termasuk ketika bekerja. Generasi milenial menganggap pertanian tidak menarik karena sebagian besar masih menggunakan cara – cara konvensional yang didalamnya juga memerlukan aktifitas fisik, mengingat hal itu, tidak heran petani muda di Indonesia masih sedikit.

Mari kita ambil contoh, misalkan dalam sebuah lingkungana pertemanan terdiri dari 6 orang. Masing – masing memiliki pekerjaan yang berbeda – beda. Pilot, arsitek, ahli statistik, dokter, youtuber, dan yang terakhir petani. 5 pekerjaan yang saya sebutkan terlebih dahulu tentu dianggap lebih baik, dan tentunya juga lebih bergengsi jika dibandingkan dengan menjadi petani. Salah satu alasannya adalah tentang alat – alat yang digunakan dalam keseharian pekerjaan mereka. Pilot setiap hari menerbangkan pesawat, tentu itu adalah hal yang hebat. Arsitek dan ahli statistik menggunakan software canggih untuk membantu pekerjaan mereka. Dokter dan yotuber juga sama – sama menggunakan peralatan canggih.

Bagaimana dengan petani?  Masih sibuk mencangkul disawah dan berpanas – panasan. Di saat teman – temannya sudah berinteraksi dengan berbagai teknologi canggih, mereka yang bekerja sebagai petani masih harus berjemur dibawah terik matahari sembari berdiri di lahan berlumpur. Hal ini tentu berpengaruh terhadap minimnya jumlah petani muda di Indonesia. Generasi milenial sudah terbiasa dengan segala kemudahan yang mereka dapatkan dari penggunaan teknologi, maka dari itu pekerjaan melelahkan seperti enggan untuk mereka lakukan.

Memang, pertanian kita masih identik dengan mencangkul sawah secara manual dan berpanas – panasan. Namun sebenarnya, jika berbicara teknologi, Indonesia sudah mulai menerapkan teknologi – teknologi canggih seperti penggunaan mesin – mesin pertanian.

Kementrian Pertanian sendiri sebenarnya sudah menyiapkan banyak mesin pertanian dalam menghadapi era revolusi 4.0. Mulai dari traktor roda dua, traktor roda empat, mesin penanam biji – bijian, mesin pemupukan, dan bahkan drone yang bisa mendeteksi unsur hara tanaman. Untuk drone itu sendiri, tidak hanya bisa digunakan untuk mendeteksi unsur hara tanaman, namun ada juga jenis drone yang bisa digunakan untuk menebar benih, menebah pupuk, bahkan menebar pestisida juga. Penggunaan drone tentunya juga akan menghemat waktu, tenaga kerja, dan juga lebih efisien lagi dalam pengelolaan lahan.

Penggunaan alat – alat modern  seperti yang telah disebutkan diatas diharapkan dapat meningkatkan jumlah petani milenial di Indonesia. Generasi milenial tumbuh dengan beragam teknologi yang mendampingi mereka. Semoga dengan penggunaan alat dan mesin modern ini dapat meningkatkan jumlah generasi milenial yang terjun ke bidang pertanian.

Namun, sebenarnya penggunaan mesin pertanian sudah lama dilakukan di Indonesia. Tapi mungkin belum semua petani menggunakannya karena terkendala biaya, dan juga luas lahan yang terlalu sempit. Di Amerika, traktor roda empat akan mudah kita jumpai, wajar saja, mengingat luas lahan yang dimiliki masing – masing petani sangatlah besar. Untuk menerapkan hal yang sama di Indonesia rasanya masih sulit, mengingat sempitnya lahan yang dimiliki masing – masing petani.

Seandainya petani di Indonesia memiliki lahan yang luas, ditambah dengan penggunaan teknologi modern, pasti jumlah petani muda di Indonesia akan meningkat.