Home » News » Keberhasilan Kakao Jembrana Tembus Pasar Jepang

Keberhasilan Kakao Jembrana Tembus Pasar Jepang

pexels-pixabay-50707
cocoa/pixabay

Kakao. Baru – baru ini Indonesia berhasil menembus pasar ekspor Jepang untuk kakao. Indonesia berhasil mengekspor 2 ton kakao organik asal Jembrana. Tapi jangan salah, Jepang bukan satu – satunya negara yang menjadi tujuan ekspor kakao asal Indonesia. Negara – negara Eropa seperti Inggris dan Eropa pun juga menjadi target ekspor bagi kakao Indonesia, tidak ketinggalan juga dengan negara di benua lain seperti Amerika. Indonesia sendiri saat ini berada pada urutan ke 6 dalam hal produksi kakao menurut The International Cocoa Organization (ICCO).

Dari  berbagai daerah penghasil kakao, kakao Jembrana sedang ramai dibicarakan belakangan ini, berkat keberhasilannya dalam menembus pasar ekspor Jepang. Penerapan pertanian organik dan fermentasi menjadi kunci dalam keberhasilan kakao Jembrana menembus pasar ekspor Jepang.

Budidaya kakao secara organik mampu menghasilkan panen yang lebih banyak. Dengan tidak adanya penggunaan pupuk kimia, kesuburan tanah juga akan lebih terjaga dan lebih ramah terhadap lingkungan. Biaya yang dibutuhkan untuk proses juga berkurang, karena untuk kebutuhan pupuk, petani bisa menggunakan kotoran hewan ternak.

Fermentasi biji kakao bertujuan untuk menghasilkan rasa dan aroma biji kakao yang khas, serta dapat mengurangi rasa pahit. Selain itu, selama proses fermentasi berlangsung, terjadi proses kimia yang terjadi yang juga akan mempengaruhi rasa dari biji kakao tersebut. Proses fermentasi paling lama dilakukan sampai 8 hari, jika terlalu cepat, maka justru rasa asam bahkan pahit lah yang akan didapatkan.

Walau belakangan ini Bali sedang ramai dibicarakan karena berhasil menembus pasar ekspor Jepang, namun Bali bukanlah daerah penghasil kakao terbesar di Indonesia. Daerah penghasil kakao terbesar di Indonesia adalah Sulawesi  Tengah.  Menurut data yang dirilis pada website Kementan, untuk tahun 2021 ini diperkirakan produksi kakao Sulawesi Tengah sebanyak 126.838 ton kakao, sedangkan Bali hanya memproduksi 5.081 ton kakao. Bahkan selama 5 tahun kebelakang Sulawesi Tengah konsisten menjadi daerah nomor 1 penghasil kakao di Indonesia, disusul daerah Sulawesi Selatan dengan perkiraan produksi kakao sebesar 118.148 ton untuk tahun ini.

Untuk mendukung perkembangan kakao disana, bahkan pemerintah Sulawesi Tengah pun mendirikan Rumah Cokelat yang bertujuan untuk menganeka ragamkan produk olahan coklat,  sehingga tidak hanya terpaku pada menghasilkan biji kakao. Di Rumah Cokelat ini biji kakao akan  diproses menjadi blok setengah setengah jadi. Proses selanjutnya akan dilakukan di industri kecil setempat untuk dijadikan makanan maupun minuman.